Jumat, 04 Mei 2012

Vampir Palsu Mendiami Sulawesi
 Vampir Palsu (Megaderma spasma)
JAKARTA — Ekspedisi yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di kawasan karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, mengungkap ragam kekayaan alam hayati wilayah tersebut.

Salah satu kekayaan yang terungkap adalah golongan kelelawar, satu-satunya mamalia yang punya kemampuan terbang. Tercatat, belasan jenis kelelawar mendiami wilayah Maros-Pangkep.

Agustinus Suyanto dan Sigit Wiantoro, peneliti LIPI, dalam buku berjudul Fauna Karst dan Gua Maros, Sulawesi Selatan yang diluncurkan pada Kamis (3/5/2012) menjelaskan bahwa salah satu jenis kelelawar yang ada adalah Megaderma spasma.

Peneliti menjelaskan bahwa spesies Megaderma spasma sering disebut sebagai Vampir Palsu. Vampir Palsu itu hidup di rongga gua, rongga pohon, maupun kolong rumah atau bangunan.

Peneliti mendeskripsikan, Vampir Palsu tersebut memiliki "Telinga besar dan tegak, bersambung di bagian pangkalnya. Tragus panjang dan terbelah. Daun hidung tegak dan panjang."

Sementara ciri khas lain adalah memiliki ekor yang sangat pendek atau tidak ada. Jikapun terdapat ekor, maka organ tersebut akan terbenam di selaput kulit antarpaha.

Untuk individu jantan, panjang kepala, dan badan Megaderma spasma adalah sekitar 7 cm. Sementara panjang kaki belakang sekitar 0,8-0,9 cm. Bobot kelelawar ini sangat ringan, cuma 21 gram.

Megaderma spasma tergolong dalam golongan fauna trogloksen. Artinya, fauna ini termasuk hewan terestrial yang tidak menetap di dalam gua. Fauna ini hanya memanfaatkan gua sebagai tempat berlindung dan mencari makan di permukaan.

Di Maros, spesies ini dijumpai di Gua Manrepo. Spesies ini juga tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Sunda Kecil, sampai dengan Maluku. Vampir Palsu juga tersebar hingga Sri Lanka dan India.

Kamis, 03 Mei 2012

Belum Ada Eksplorasi Mikroba Goa
Sahabuddin (45) menyiangi hasil panen di Dusun Rammang-Rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (7/4/2012), dengan latar belakang deretan pegunungan batu gamping (karst). Di Rammang-Rammang terdapat karst seluas sekitar 10.000 hektar yang masih terjaga kelestariannya sehingga menjadi sumber air bagi warga sekitar.

CIBINONG — Kawasan karst menarik perhatian para peneliti. Riset laba-laba, ikan, dan serangga tanah sudah dilakukan. Beberapa spesies baru dari goa-goa di Indonesia telah ditemukan dan dipublikasikan.

"Yang belum dilakukan di Indonesia adalah penelitian mikrobiologi goa," kata Yayuk R Suhardjono, peneliti zoologi kawasan karst, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Menurut Yayuk, di negara-negara yang mayoritas beragama Hindu dan Buddha, seperti India dan Thailand, banyak tempat ibadah berada di dalam goa. Riset mikrobiologi dilakukan untuk mendeteksi mikroba yang merusak dinding batu dan patung pemujaan.

"Di Indonesia, mikroba goa belum tersentuh. Padahal, ada banyak mikroorganisme, seperti jamur, dan pasti ada bakteri," kata Yayuk dalam Lokakarya "Ekosistem Karst untuk Kelangsungan Hidup Bangsa" di LIPI Cibinong, Kamis (3/5/2012).

Yayuk mengungkapkan, bukan tidak mungkin ditemukan jenis baru mikroba yang punya potensi ekonomi, seperti kemampuan menghasilkan bahan obat. Menurut dia, peneliti mikrobiologi perlu melirik kawasan karst, terutama goa.

Rabu, 02 Mei 2012

Inikah Anggota "Kingdom" Baru Makhluk Hidup?
 Collodictyon
JAKARTA — Ilmuwan menemukan mikroorganisme di lumpur danau wilayah Norwegia. Mereka mengatakan bahwa mikroorganisme tersebut kemungkinan adalah anggota dari kingdom baru makhluk hidup.

Makhluk hidup di Bumi saat ini dibagi dalam dua golongan besar, Prokaryota dan Eukaryota. Golongan Prokaryota tidak memiliki membran inti, terdiri atas bakteri dan achaea. Sementara itu, golongan Eukaryota mencakup alga, jamur, hewan, dan tumbuhan.

Kamran Shalchian-Tabriz, Kepala Microbial Evolution Research Group (MERG) di University of Oslo, meneliti makhluk baru tersebut dengan analisis morfologi dan genetik. Ia menamai makhluk itu Collodictyon dan mengatakan bahwa ciri-ciri makhluk tidak merepresentasikan kingdom yang ada.

Beberapa ciri unik dari Collodictyon adalah memiliki 4 flagela, alat gerak serupa rambut yang berukuran relatif panjang. Sel mamalia, ameba, dan jamur hanya punya 1 flagelum. Sementara itu, beberapa alga, tumbuhan, dan parasit bersel satu punya 2 flagela.

Ciri lain yang unik adalah, Collodictyon memiliki struktur internal seperti parasit. Namun, studi menunjukkan bahwa mikroorganisme baru ini mencari makan dengan cara mirip ameba. Jadi, makhluk ini seperti gabungan antara makhluk paling primitif dan Eukaryota.

Diketahui bahwa makhluk hidup tingkat tinggi bisa mengalami mutasi. Archaea sendiri baru dikenal tahun 1990. Jadi, sangat mungkin ada makhluk yang merupakan representasi kingdom baru saat ini. Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Molecular Biology Evolution.

Kamis, 26 April 2012

Ini Lho, 194 Spesies Serangga Baru di Mekongga
 Perbandingan tawon monster dengan tawon biasa (vespula vulgaris)

JAKARTA - Ekspedisi Mekongga yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan University of California, Davis, berhasil mengoleksi jutaan spesimen dan mengidentifikasi spesies baru.

Elizabeth Widjaja, peneliti bambu dari Puslit Biologi LIPI, dalam acara diseminasi riset hasil kerjasama LIPI, Rabu (25/4/2012), mengungkapkan bahwa fauna golongan serangga adalah yang paling banyak ditemukan.

"Ada 1 juta spesimen serangga yang diambil. Dari 1 juta itu baru 15.000 yang disortir. Belum semua spesimen diidentifikasi dan dinamai," ungkap Elizabeth.

Dari proses yang sudah dilakukan, diperkirakan ekspedisi berhasil mengoleksi 531 spesies serangga. Sementara, jumlah spesies baru yang diperkirakan 194 jenis.

Salah satu spesies baru serangga yang ditemukan adalah Megalara garuda atau tawon raja. Jenis tawon ini memiliki rahang yang besar, bahkan lebih besar dari kaki depannya.

Selain serangga, ada 24 jenis reptil, 15 amfibi, 27 ikan dan 17 crustacean. Beberapa spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya adalah 1 jenis kelelawar serta beberapa katak dan kadal.

Di bidang botani, ekspedisi Mekongga juga menemukan 1 genus bambu baru serta spesies baru Rhododendron, Syzygium (jambu-jambuan), osmocylon dan sebagainya.

Elizabeth megungkapkan, penelitian eksploratif seperti pengungkapan kekayaan hayati Indonesia perlu dilakukan. Tidak semua kegiatan riset harus diarahkan pada riset-riset aplikatif yang segera dapat dituai manfaatnya.

Saat ini, pemerintah kurang berpihak pada penelitian dasar. Anggaran LIPI yang dipotong 10 persen berimbas pada berkurangnya 80 persen anggaran penelitian dasar. Eksplorasi tak bisa dilakukan.

Rabu, 25 April 2012

6.000 Spesimen Serangga Indonesia Dipinjam Amerika
 Perbandingan tawon monster dengan tawon biasa (vespula vulgaris)

JAKARTA — Lebih dari 1 juta spesimen serangga berhasil dikoleksi dalam Ekspedisi Mekongga yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) beberapa waktu lalu.
"Sebanyak 6.000 spesimen serangga dipinjam oleh UC Davis," kata Elizabeth Widjaja, peneliti bambu dari Puslit Biologi LIPI yang juga terlibat ekspedisi, dalam konferensi pers, Rabu (25/4/2012).
University of California Davis, Amerika Serikat, adalah pihak yang bekerja sama dengan LIPI untuk melaksanakan Ekspedisi Mekongga. Peneliti dari UC Davis yang turut serta salah satunya ialah Lynn S Kimsey, pakar serangga yang terlibat penemuan tawon garuda (Megalara garuda).
Peminjaman spesimen memang hal biasa dalam penelitian taksonomi. Hal ini dilakukan di antaranya untuk mengatasi keterbatasan dana dan sumber daya manusia yang ahli di bidangnya.
Peminjaman spesimen harus disertai dengan Material Transfer Agreement (MTA). Persyaratan dalam peminjaman spesimen adalah tidak diperbolehkan meminjamkan lagi kepada pihak ketiga.
Permasalahan yang muncul dalam peminjaman spesimen serangga oleh UC Davis adalah banyaknya spesimen yang dipinjamkan pada pihak ketiga. "Padahal, hal itu sudah diatur dan tidak boleh tanpa sepengetahuan kita. Pihak sana meminjamkan langsung kepada pihak lain," ungkap Elizabeth.
LIPI saat ini mengajukan tuntutan kepada UC Davis, meminta agar semua spesimen yang dipinjamkan ke pihak ketiga dikembalikan.
Spesimen serangga atau jenis makhluk hidup apa pun bukan barang remeh. Dengan spesimen, analisis DNA, bioprospecting atau penelitian potensi biota bisa dilakukan.
Di luar kasus ini, Indonesia harus terus menjaga biodiversitasnya. Aktivitas peneliti asing di Indonesia juga harus dipantau. Perizinan dan MOU yang dibuat harus jelas. Selama ini, diduga banyak biota Indonesia "dilarikan" ke luar negeri tanpa sepengetahuan pemerintah.

Selasa, 24 April 2012

Tokek Kumbang Ditemukan di Papua Niugini
 Tokek Kumbang (Nactus kunan)

PULAU MANUS — Spesies baru tokek dengan corak warna kulit hitam dan emas layaknya kumbang ditemukan di Papua Niugini.  Tokek tersebut berukuran 13 sentimeter dan ditutupi nodul kulit yang memudahkannya bersembunyi di lantai hutan.

Spesimen tokek ini pertama kali dikoleksi pada Maret 2010 di Pulau Manus. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Zootaxa bulan ini.

"Kami secara resmi menamainya Nactus kunan, didasarkan pada pola warnanya. Kunan berarti kumbang dalam bahasa lokal, bahasa Nali," kata Robert Fisher dari USGS Western Ecological Research Group.

"Spesies ini masuk dalam genus tokek berjari kaki langsing, berarti spesies ini tak memiliki jari kaki yang serupa bantalan dan berguna untuk memanjat tebing seperti umumnya tokek," lanjut Fisher seperti dikutip Reuters, Kamis (19/4/2012).

Tokek ini ditemukan setelah analisis genetik dilakukan. Bersama penemuan spesies ini ditemukan pula dua spesies tokek lain. "Spesies ini memberi kejutan. Saya telah mempelajari genus ini sejak tahun 1970-an dan tak memperkirakan akan menemukan spesies ini," kata George Zug, pakar reptil dari Smithsonian Institution yang menjadi co-author riset ini.